Buka laptop, liat kalender. Ternyata hari ini tanggal 21 bulan Januari. Tibatiba kok sedih ya, jadi inget 2013.
.
.
.
.
kayak orang punya baju yang digantung, nah kalau orangnya mau ngambil baju itu kan ya tinggal ambil ya lah wong hak dia kok. Sama kaya nyawa, ketika memang sudah waktunya untuk menghadapNya ya kita bisa apa. 2013 lalu, bulan januari. Tanpa ada yang sadar bulan itu adalah bulan terakhir bareng malaikat tanpa sayap, bareng wanita yang rela mengorbankan nyawanya; iya Ibu.
Sebenarnya Ibu sakit udah lama, dari gue kelas 4 SD, kata dokter pengapuran tulang dini, sampai akhirnya Ibu mengkonsumsi jamu. Saking bosen dan eneknya minum jamu akhirnya jamu itu masukin ke dalam kapsul deh wkwk. pengobatan yang ditempuh Ibu ga cuma sampai situ berbagai macam upaya pengobatan kita lakuin. Tapi, ikhtiar yang kita lakukan belum membuahkan hasil yang diharapkan, tapi gue yakin ini adalah yang terbaik. 8 Februari 2013, hari dimana Ibu menghadap sang penciptanya, hari dimana gue, bapak dan kakak gue harus siap ditinggal beliau.
.
.
.
.
tentang kesiapan adalah tentang proses, proses dimana kita harus pura pura tegar disaat teman teman kita menceritakan kehebatan ibu mereka, proses dimana hati kita harus lebih lapang dari lapangan saat melihat teman teman kita bermesraan bersama ibunya. proses bagaimana kita harus tetap bersyukur bagaimanapun keadaan kita sekarang. Tapi Allah gamungkin ngebiarin hambaNya terus dan terus berada dalam kesedihan. siapa sangka 28 mei 2013 lalu gue dinyatakan diterima di salah satu universitas negeri di Jawa Tengah, siapa sangka yang tadinya kuliah bayar 3juta/semester jadi 0/persemster. dapet uang bulanan dapet pembinaan.
RencanaNya sungguh diluar dugaan bukan?
(bersambung)