Aku sadar bahwasanya aku hanyalah manusia yang tak pernah luput dari
apa itu dosa dan khilaf, dan aku tahu memang tidak ada manusia yang
dilahirkan sempurna, tidak ada manusia yang dalam hidupnya tidak pernah
salah, tidak pernah khilaf. Karena manusia tampatnya salah dan khilaf.
Dan disinilah kita semua belajar.
Diri ini terlahir tidak
langsung menjadi manusia yang taat, ada berbagai kisah yang panjang
menuju ketaatan, ada pergulatan batin yang mendalam menuju sebuah
ketaatan. Adalah sebuah pencarian panjang menuju ketaatan. Apakah sempat
tersesat? Iyah pasti, karena dari sini aku akan memulai ceritaku.
Ingin
terkenal? Iyah waktu itu yang terpenting bagiku adalah terkenal, eksis.
Menunjukkan siapa sebenarnnya diriku. Tanpa pernah peduli dan sadar
apakah Allah ridho atas ini semua? Tidak sadar sebenarnya untuk apa aku
melakukan ini semua? Bodoh. Iyah memang. Sempat masuk kedalam fase
dimana yang isinya melulu tentang cinta, cinta kepada manusia tentunya
seketika menjadi dewasa sebelum waktunya :D. Bayangkan disini isinya
melulu tentang kenalan-deket-pacaran-putus terus musuhan. Bilangnya
kapok udah gamau mau lagi deh yang namanya pacaran takut sakit hati lah
inilah itulah tapi tetep aja terus lanjut :D
Sampai-sampai
hanya disibukkan dengan luka dan kekecewaan yang dibuat sendiri. Nangis
Cuma karena seseorang yang sudah meninggalkan dan tidak lagi menjadi
milik sendiri, sedih pas liat seseorang yang biasa bareng sama kita tiba
tiba sekarang dia jalan sama orang lain. Astagfirullah tanpa pernah aku
sadar Allah sedang memberi pelajaran atas sakitnya kehilangan.
Malu
rasanya. Pernah mencintai manusia sampai rela menangis untuknya dan
menyalahkan keadaan :D tapi seandainya aku tidak mengalami fase fase
seperti itu aku tidak akan pernah belajar, iyah belajar menjadi manusia
yang lebih baik dari pengalaman sebelumnya.
Bukan hanya
sekedar tersesat masuk kedalam fase pacaran, pernah juga tersesat dalam
arus gaya hidup, mulai dari gaya berpakaian, makanan, tontonan, tempat
nongkrong yah apalah itu yang lainnya. Nyoba ini sampai itu agar
terlihat ini dan itu, gak pernah mau kalah harus ini harus itu biar
engga kudet. Yah begitulah diri ini, diri yang penuh dosa.
Hanya
terfikir bagaimana penilaian manusia tentang diri ini, tidak pernah
terbesit apalagi terfikir bagaimana penilain Allah ? apakah Allah ridho
atas diri ini? Hingga pada akhirnya Allah menyadarkanku, Allah memberiku
pelajaran, Allah memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum
akhirnya aku pulang untuk menghadapnya. Malu rasanya diri ini sangat
jauh dariNya. Astagfirullah L
Hingga pada akhirnya ada
seseorang yang menyadarkanku dia bilang “Allah rindu denganmu, Dia tau
kamu sangat jauh dariNya, dia ingin kamu lebih dekat dengannya makanya
dia memanggilmu dengan ujiannya. Tidak ada yang terlambat. Belajarlah
pelan pelan.”
Dan mulai saat itu perlahan aku mulai
membenahi diriku, pelan pelan, sedikit demi sedikit, dengan langkah
tertatih bahkan berkali kali jatuh. Tapi aku tau disitu Allah selalu
bersamaku. Aku benar benar merasakan kasih sayangNya, merasakan pelukan
Allah untuk hambanya yang sedang berusaha berbenah diri, bukan hanya
pelukan untukku tapi untuk kita, iyah kita yang saat ini sedang berusaha
membenahi diri.
Jangan tanya betapa malunya diri ini
pernah tersesat tapi janji Allah dia akan mengampuni dosa hambanya
sekalipun dia sangat jauh. Sungguh tidak ingin kembali kemasa itu masa
dimana aku benar benar menjadi manusia paling bodoh. Ya Allah izinkan
aku untuk terus memperbaiki diri ini, memperbaiki diri yang penuh dengan
dosa, izinkan aku untuk terus mencari bekal sebelum akhirnya aku harus
pulang untuk menghada kepadaMu. Izinkan aku mencintaiMu disisa umurku
sebisaku. Ya Allah sungguh aku tidak ingin jauh lagi dariMu.
Kini
aku tau bahwasanya Allah selalu bersama kita semua, Allah tidak pernah
meninggalkan kita. Allah menguji kita karena Allah sayang kita Dia ingin
kita lebih dekat denganNya. Semoga Allah senantiasa memberi kemudahan
untuk menuju ridhaNya. Aamiin :’)
“ Pada akhirnya engkau
akan menemukan senyuman diwajahmu. Berterimaksihlah atas apa yang
terjadi dimasa lalu. Dan menyesal pernah menyesali.” Ust. Yusuf Mansur
Semarang, 16 januari 2014
Khayatun Nufus