Jumat, 14 Maret 2014

KEEP MOVING FORWARD hap hap...

Aku sadar bahwasanya aku hanyalah manusia yang tak pernah luput dari apa itu dosa dan khilaf, dan aku tahu memang tidak ada manusia yang dilahirkan sempurna, tidak ada manusia yang dalam hidupnya tidak pernah salah, tidak pernah khilaf. Karena manusia tampatnya salah dan khilaf. Dan disinilah kita semua belajar.

Diri ini terlahir tidak langsung menjadi manusia yang taat, ada berbagai kisah yang panjang menuju ketaatan, ada pergulatan batin yang mendalam menuju sebuah ketaatan. Adalah sebuah pencarian panjang menuju ketaatan. Apakah sempat tersesat? Iyah pasti, karena dari sini aku akan memulai ceritaku.

Ingin terkenal? Iyah waktu itu yang terpenting bagiku adalah terkenal, eksis. Menunjukkan siapa sebenarnnya diriku. Tanpa pernah peduli dan sadar apakah Allah ridho atas ini semua? Tidak sadar sebenarnya untuk apa aku melakukan ini semua? Bodoh. Iyah memang. Sempat masuk kedalam fase dimana yang isinya melulu tentang cinta, cinta kepada manusia tentunya seketika menjadi dewasa sebelum waktunya :D. Bayangkan disini isinya melulu tentang kenalan-deket-pacaran-putus terus musuhan. Bilangnya kapok udah gamau mau lagi deh yang namanya pacaran takut sakit hati lah inilah itulah tapi tetep aja terus lanjut :D

Sampai-sampai hanya disibukkan dengan luka dan kekecewaan yang dibuat sendiri. Nangis Cuma karena seseorang yang sudah meninggalkan dan tidak lagi menjadi milik sendiri, sedih pas liat seseorang yang biasa bareng sama kita tiba tiba sekarang dia jalan sama orang lain. Astagfirullah tanpa pernah aku sadar Allah sedang memberi pelajaran atas sakitnya kehilangan.

Malu rasanya. Pernah mencintai manusia sampai rela menangis untuknya dan menyalahkan keadaan :D tapi seandainya aku tidak mengalami fase fase seperti itu aku tidak akan pernah belajar, iyah belajar menjadi manusia yang lebih baik dari pengalaman sebelumnya.

Bukan hanya sekedar tersesat masuk kedalam fase pacaran, pernah juga tersesat dalam arus gaya hidup, mulai dari gaya berpakaian, makanan, tontonan, tempat nongkrong yah apalah itu yang lainnya. Nyoba ini sampai itu agar terlihat ini dan itu, gak pernah mau kalah harus ini harus itu biar engga kudet. Yah begitulah diri ini, diri yang penuh dosa.

Hanya terfikir bagaimana penilaian manusia tentang diri ini, tidak pernah terbesit apalagi terfikir bagaimana penilain Allah ? apakah Allah ridho atas diri ini? Hingga pada akhirnya Allah menyadarkanku, Allah memberiku pelajaran, Allah memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum akhirnya aku pulang untuk menghadapnya. Malu rasanya diri ini sangat jauh dariNya. Astagfirullah L

Hingga pada akhirnya ada seseorang yang menyadarkanku dia bilang “Allah rindu denganmu, Dia tau kamu sangat jauh dariNya, dia ingin kamu lebih dekat dengannya makanya dia memanggilmu dengan ujiannya. Tidak ada yang terlambat. Belajarlah pelan pelan.”

Dan mulai saat itu perlahan aku mulai membenahi diriku, pelan pelan, sedikit demi sedikit, dengan langkah tertatih bahkan berkali kali jatuh. Tapi aku tau disitu Allah selalu bersamaku. Aku benar benar merasakan kasih sayangNya, merasakan pelukan Allah untuk hambanya yang sedang berusaha berbenah diri, bukan hanya pelukan untukku tapi untuk kita, iyah kita yang saat ini sedang berusaha membenahi diri.

Jangan tanya betapa malunya diri ini pernah tersesat tapi janji Allah dia akan mengampuni dosa hambanya sekalipun dia sangat jauh. Sungguh tidak ingin kembali kemasa itu masa dimana aku benar benar menjadi manusia paling bodoh. Ya Allah izinkan aku untuk terus memperbaiki diri ini, memperbaiki diri yang penuh dengan dosa, izinkan aku untuk terus mencari bekal sebelum akhirnya aku harus pulang untuk menghada kepadaMu. Izinkan aku mencintaiMu disisa umurku sebisaku. Ya Allah sungguh aku tidak ingin jauh lagi dariMu.

Kini aku tau bahwasanya Allah selalu bersama kita semua, Allah tidak pernah meninggalkan kita. Allah menguji kita karena Allah sayang kita Dia ingin kita lebih dekat denganNya. Semoga Allah senantiasa memberi kemudahan untuk menuju ridhaNya. Aamiin :’)

“ Pada akhirnya engkau akan menemukan senyuman diwajahmu. Berterimaksihlah atas apa yang terjadi dimasa lalu. Dan menyesal pernah menyesali.” Ust. Yusuf Mansur

Semarang, 16 januari 2014
Khayatun Nufus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar