Resum Buku Tegar di Jalan Dakwan by Cahyadi Takariawan
Bekal kader dakwah di Mihwa Daulah
Buku Tegar di
Jalan Dakwah ini membahas empat hal besar yang masing masing dijelaskan
dalam bab tersendiri : problematika internal aktivis dakwah, problematika
eksternal dakwah, daya tahan di medan dakwah dan yang tehar di jalan dakwah. Meskipun
judulnya problematika bab 1 dan bab 2 juga mencantumkan solusi pada setiap
problematika yang muncul. Solusi pada bab 1 lebih detail dan bersifat aplikatif
karena menyangkut permasalahan internal kader. Sementara solusi pada babb 2
lebih bersifat global terkait langkah apa yang perlu diambil oleh jamaah
dakwah. Bab 3 berisi langkah langkah sistematis “membangun” dan “menjaga” daya
tahan di medan dakwah. Sedangkan Bab 4 banyak berisi contoh-contoh-contoh dai
atau jamaah dakwah yang tegar menghadapi beragam mihnah.
Problematika
Internal Aktivis Dakwah
Pembahasan problematika internal lebih didahulukan
dari pada pembahasan problematika eksternal karena problem terberat bagi semua
jamaah dakwah adalah kendala internal. Ketika problematika internal sudah
diselesaikan/dikelola dengan baik, maka amanah dakwah lebih mudah ditunaikan
dan problematika eksternal lebih mudah diselesaikan.
Problematika internal yang sering dalam jamaah
dakwah adalah gejolak kejiwaan, ketidakseimbangan aktifitas, latar belakang
masa lalu, penyesuaian diri danfiksi internal
Problematika
Eksternal Dakwah
Problematika eksternal dakwah yang bisa menjadi
bahaya besar bagi kebaikan bangsa dan masyarakat indonesia, khususnya umat
Islam meliputi problematika spiritual dan kultural, problematika moral, dan
problematika sistemik.
Diantara problematika dakwah di indonesia yang
menyangkut aspek spiritual dan kultural adalah : berhalaberhala modern baik
berupa teknologi yang dijadikan rujukan kebenaran, sains yang diansolutkan,
materi yang di taati, maupun kekuasaan yang di puja puja syirik, khurafat dan
tahayul yang masih merebak di Masyarakat; globalisasi dan dialektika kultural;
serta tradisi baik yang sudah tergerus dan tergantikan dengan budaya negatif
dan perkembangan peradaban.
Problematika moran diantaranya adalah minuman keras
dan penyalahgunaan obat-obatan, penyelewengan seksual, perjudian dan penipuan,
serta tidakan brutal dan kekerasan.
Sedangkan yang dimaksud dengan problematika sistemik
adalah korupsi, kalusi dan nepotisme (KKN), kemiskinan, kebodohan dan ancaman
disentegraso bangsa.
Daya
tahan di Medan Dakwah
Dakwah merupakan jalan panjang dan lintas generasi
niscaya memerlukan daya tahan yang permanen.bagii, individu kader dakwah daya
tahan ini juga harus dimiliki agar tetap istiqomah sampai mengakhiri sejarah
kehidupannya dengan husnul khotimah. Untuk itu, paling tidak ada lima faktor
yang perlu dimiliki para aktivis dakwah untuk merealisir daya tahan di medan
dakwah : menguatkan dan membersihkan motovasi, menggapai derajat iman,
menggandakan kesabaran, kekuatan ukhuwan dan dukungan soliditas struktur.
Yang
Tegar di Jalan Dakwah
Jalan dakwah ini pasti depenuhi dengan beragam
kesulitan, hambatan, rintangan, tribulasi. Para aktifisnya akan berhadapan
dengan beragam mihnah , sebagaimana
para dai generasi sebelumnya sejak Rasulullah dan para sahabatnya, tabi’in,
tabiut tabi’in, dan seterusnya. Diantara mihnah itu ada yang berupa ejekan,
gelombang fitnah, teror fisik, manisnya rayuann, tekanan keluarga, keterbatasan
ekonomi, kemapanan, sampai kekuasaan. Kader dakwah harus tegar menghadapi semua
mihnah itu.
Agar tegar dalam menghadapi ejekan, sadarilah bahwa
ejekan kepada rosullah jauh lebih hebat; maka biarkan saja semua orang
mengejek, tidak perlu diladeni. Agar tegar dalam menghadapi fitnah, tetaplah
bekerja dan beramal maka umat akan tahu siapa yag benar dan siapa yang tukang
fitnah. Agar tegar dalam menghadapi teror fisik, tawakallah kepada Allah dan
berdo’alah senantiasa, di samping persiapan fisik yang lainyang juga perlu
dilakukan oleh struktur dakwah. Agar tegar menghadapi manisnya rayuan, jagalah
keikhlasan dan senantiasa memperbarui niat, waspada dan tetap bersama jamaah. Agar
tegar menghadapi tekanan keluarga, ketegasan harus diutamakan. Iman tidak bisa
ditukar dengan keluarga, jika memang itu pilhannya. Agar tegar menghadapi
kekurangan/keterbatasan ekonomi,
bersabar adalah kuncinya. Kekuatan ukhuwan sesama aktifi dakwah juga berperan
penting untuk menjaga kita tetap tegar. Agar tegar dalam kemapanan harus
memiliki paradigma semakin banyak kekayaan, semakin banyak kontribusi bagi
dakwah. Maka yang diteladani adalah Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Agar
tegar di puncak kekuasaan, kelurusan orientasi perjuangan ketaatan akan manhaj
dakwah Rasulullah dan keyakinan dan janji-janjiNya. Dan pada semua mihnah, kedekatan dengan Allah dan
Tawakkal kepada-Nya merupakan kunci utama agar tegar di jalan Dakwah!







