Titip Rinduku
Aku rindu kalian, sangat rindu. Entah bagaimana aku
menahan perasaan ini. Aku rindu menghabiskan waktu bersama kalian. Kalian lebih
dari seorang sahabat. Kapan aku dapat memeluk kalian. Banyak cerita yang ku
ingin ceritakan, banyak cerita kalian yang ingin ku dengar. Bagaimana bisa aku lebih rindu kalian daripada
keluargaku sendiri, dasar bodoh. Kalian harus tanggung jawab karena kalian
telah mengambil sepotong hatiku, kalian telah mengambil ruang kosong di
pikiranku. Bagaimana mungkin aku melupaka kalian dengan sejuta kenangan yang
kita buat.
Nunu, ahh bagaimana mungkin aku rindu kepada seorang
yang pertama kali bertemu dengan wajah masam sepertimu. Aku tak punya pilihan
lain ketika bangku kosong ada di sebelahmu. Takut-takut aku meminta izin
kepadamu. Haha sungguh memalukan. Bagaimana mungkin aku melupakan seorang yang
selalu meminta tumpangan meskipun rumahmu dekat dari sekolah. Bagaimana mungkin
aku melupakan seorang teman yang sejalan denganku ketika ingin makan dan harus
meminta jajanan kepada anak putra. Bagaimana aku melupakan seorang sahabat yang
selalu membuat kamarku berantakan. Dan saat kau mangirimku pesan bahwa ibunda
tercintamu telah tiada, percayalah aku menangis dan sangat menangis. Kau
terlalu hebat untuh menjadi seorang sahabatku.

Tomah, si
rempong. Haha. Aku tidak tahu mengapa aku bisa dekat denganmu,padahal saat kita
di kelas sebelas, aku duduk sangat depan dan kau duduk di kursi paling
belakang. Sifat yang paling aku suka darimu adalah kau sangat baik hati. Dan
sifat yang paling aku tidak suka darimu adalah kau terlalu baik hati. Bagaimana bisa kau masih menaruh hati kepada
dia yang selalu menyakiti hatimu, bagaimana bisa kau masih menerimanya,
jelas-jelas dia tak baik untukmu. Kau pasti tak akan melupakanku yang sering
menertawakanmu, haha. Masih ingat kejadian saat kita kelas duabelas? Kau hampir
mengacaukan meja kau sendiri gara-gara spidol. Sudah jelas spidol ada di
tanganku, mengapa kau mencari-cari ke dalam tasmu yang mengkibatkan handphonemu
terjatuh dari sakumu hingga hancur, saat kau ingin mengambil serpihannya, kau
menjatuhkan tasmu yang terdapat air didalamnya dan tumpah. Aku tak kuasa untuk
tidak tertawa, haha.

Naun, ku tahu bagaimana sakitnya difitnah. Tapi
bukankah karena masalah itu kita jadi kenal, bahkan kita sangat dekat tak
terpisahkan saat itu. Dimana ada kau, di situ ada aku. Aku tak mungkin
melupakan seorang yang pernah datang malam-malam ke rumahku dengan wajah cemas
ingin menginap karena telah melakukan sesuatu yang membuat seorang anak pinsan
di tengah jalan. Haha. Dan aku tak bisa melupakan seorang teman yang selalu
memarahiku jika aku melakukan sesuatu yang tak sesuai kehendaknya, dan seorang
sahabat yang selalu menjadikanku alasan untuk dekat dengan orang yang
disukainya. Dasar modus, haha. Bagaimana aku bisa lupa kepada orang selalu
membuatku tertawa. Sahabat yang suka mengomentari laguku. Awas saja kau jika
kau tak menjadi seorang artis, mati kau. Haha.

Leni, terlalu rumit masuk ke dalam kehidupanmu dan
teman-temanmu. Sungguh aku tak mau ikut campur didalamnya. Kita tak pernah satu
kelas tapi kau begitu dekat denganku. Yah, jambore nasional yang mendekatkan
kita. Kau selalu mengikuti acara-acara yang sebenarnya bukan acaramu tapi kau
selalu ikut karena ada aku. Ah dasar kau pengikut, haha. Kau masih ingat saat
pulang sekolah, kau tak tahu mau kemana. Dan aku mengajakmu ke rumahku untuk
menonton drama, alhasil kau tak mau pulang hingga larut malam. Tapi karena
terpaksa besok kau harus sekolah dan kau tak membawa baju sekolah, hal itu
memaksamu untuk pulang malam itu juga. Aku tak bisa melupakan seorang yang
selalu ada bersamaku. Saat-saat kelas duabelas, waktuku lebih banyak kuhabiskan
bersamamu. Hampir setiap hari kita bersama, kau selalu bermain dirumahku hingga
sore atau malam. Kau sahabat yang selalu ada untukku.
 |
|
Nama kalian begitu melekat di hatiku. Aku
tak kan melupakan kalian. Kalian yang menemaniku di masa putih abu, kalian yang
menjadikan persahabatan begitu indah, kalian yang menjadikan hidupku tak lagi
hampa. Jika ada masa yang paling indah, maka itu bukan saat aku memiliki banyak
harta, bukan saat aku memiliki tahta. Tapi, masa itulah dimana aku menemukan
kalian, sahabat sejatiku.
Aku merindukan kalian, semoga kalian akan
baik-baik saja di perantauan. Aku berharap kita bisa bertemu di sebuah tempat
yang indah. Aku yakin kita pasti akan bertemu.
Love,
ini bukan gue yang nulis gaes ini surat dari sahabat gue, Yeyen namanya sekarang dia lagi kuliah di ITB. keren yah? iyah die emang keren banget. :)
makasi yen buat suratnya. Love you to. salam kangen dari tanah rantau
Tidak ada komentar:
Posting Komentar